Pages

Sabtu, 06 Desember 2014

MASALAH KEBUDAYAAN

MASALAH KEBUDAYAAN

1.         PENGERTIAN KEBUDAYAAN


            Kebudayaan berasal dari perkataan latin: “colere” yang artinya mengolah, menyuburkan, dan mengembangkan, terutama mengolah tanah atau bertani. Dari segi arti ini berkembanglah arti culture “sebagai daya dan aktivitas manusia untuk mengolah dan mengubah alam”.
Ditinjau dari sudut bahasa Indonesia, kebudayaan berasal dari bahasa Sansakerta “buddhayah”, yaitu bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal.
           Pendapat lain mengatakan bahwa kata budaya adalah sebagai suatu perkembangan dari kata majemuk budidaya, yang berarti daya dan budi. Karena itu mereka membedakan antara budaya dan kebudayaan. Budaya adalah daya dari budi yang berupa cipta, karsa dan rasa; dan kebudayaan adalah hasil dari cipta, karsa dan rasa tersebut.
           A.L. Kroeber dan C. Kluckhohn, yang pernah mengumpulkan sebanyak mungkin definisi tentang paham kebudayaan. Terbukti ada 160 macam definisi tentang kebudayaan, yang kemudian dianalisis dicari intinya dan diklasifikasikan dalam berbagai golongan, dan kemudian hasil penyelidikan itu diterbitkan dalam suatu kitab bernama “Culture, A critical Review of Concepts and definitions 1952”.
          Adapun ahli antropologi E. B. Taylor, yang merumuskan definisi kebudayaan dalam bukunya yang terkenal: “Primitive Culture” bahwa kebudayaan adalah keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung ilmu pengetahun, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan kemampuan lain.
         Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa bagi ilmu sosial arti kebudayaan adalah amat luas, meliputi kelakuan dan hasil kelakuan manusia.
         Dalam masyarakat ramai kebudayaan sering di artikan sebagai THE GENERAL BODY OF THE ARTS.
         Di samping definisi-definisi di atas, masih banyak definisi yang dikemukakan oleh para sarjana-sarjana Indonesia:
1.     Sutan Takdir Alisyahbana: Kebudayaan adalah manifestasi dari suatu bangsa
2.     Dr. Moh. Hatta: kebudayaan adalah ciptaan hidup dari suatu bangsa
3.     Mangunsarkoro: kebudayaan adalah segala yang bersifat hasil kerja jiwa manusia dalam  arti  yang seluas-luasnya
4.     Haji Agus Salim: kebudayaan adalah merupakan persatuan istilah budi dan daya menjadi makna sejiwa dan tidak dapat dipisah-pisahkan
5.     Dawson dalam bukunya “Age of the Gods”, kebudayaan adalah cara hidup bersama.
6.     E. B. Taylor dalam bukunya “Primitive Culture”: kebudayaan adalah suatu satu kesatuan atau jalinan kompleks, yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, susila, hukum, adat istiadat dan kesanggupan-kesanggupan lain yang diperoleh seseorang sebagai anggota masyarakat.
7.     Drs. Sidi Gazalba: kebudayaan adalah cara berpikir dan merasa menyatakan diri dalam seluruh segi kehidupan dari segolongan manusia, yang membentuk kesatuan sosial dalam suatu ruang dan waktu.
         Dapatlah kiranya kita tarik kesimpulan bahwa kebudayaan adalah hasil buah budi manusia untuk mencapai kesempurnaan hidup.
Hasil buah budi (budaya) manusia itu dapat kita bagi menjadi 2 macam:
1.      Kebudayaan material (lahir)
2.      Kebudayaan immaterial (batin)


2.    Kerangka kebudayaan

Penjabaran tentang kerangka kebudayaan, terdapat di unsur-unsur kebudayaan
Ø  Sistem upacara keagamaan
Setiap kebudayaan terdapat kepercayaan yang dianut. Kepercayaan yang dianut di Indonesia ada 5, yaitu Islam, Kristen protestan, Katolik, Hindu dan Budha. Dari kelima agama tersebut terdapat upacara keagamaan yang berbeda-beda. Akan tetapi untuk masyarakat yang tinggal di kota upacara keagamaan sepertinya sudah tidak dilaksanakan lagi kecuali dalam hal-hal tertentu saja. Sedangkan masyarakat yang tinggal di desa masih banyak yang melaksanakan upacara keagamaan tersebut.

Ø  Sistem dan organisasi kemasyarakatan
Kebudayaan di Indonesia beragam sangat banyak. Terdapat masyarakat Jawa, Sunda, Batak, Bugis dsb. Dari macam-macam kebudayaan tersebut, perlu ditanamkan nilai-nilai kemanusiaan yaitu membiasakan bergaul dengan kebudayaan yang lain. Dan saling berinteraksi dengan rukun.Di Indonesia banyak terdapat kebudayaan yang harus di lestarikan bersama. Jangan kita saling bersaing untuk kepentingan pribadi dengan kebudayaan lain, karena itu sama saja kita memecah belahkan kebudayaan yang sudah ditanam oleh leluhur sebelumnya.

Ø  Bahasa
Kebudayaan yang beragam sangat berpengaruh pada bahasa yang dipakainya. Contohnya bahasa Inggris, Jerman, Italia, Sunda, Jawa, dsb. Dari banyak bahasa tersebut kita dapat mempelajarinya untuk pengetahuan yang lebih luas. Tidak hanya bahasa yang dipelajari berasal dari bahasa luar negri saja, tetapi bahasa dari negeri Indonesia pun perlu kita pelajari untuk melestarikan kebudayaan yang ada di Indonesia.

Ø  Sistem pengetahuan
Ada banyak system pengetahuan misalnya pertanian, perbintangan, perdagangan/bisnis, hokum dan perundang-undangan, pemerintahaan/politik dsb. Hal tersebut juga bagian dari kebudayaan. Kita wajib mempelajarinya karena dengan adanya system pengetahuan kita menjadi tahu dunia luar dan sangat bermanfaat untuk kehidupan karena berpengaruh pada pekerjaan seseorang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Tidak perlu semua kita pelajari cukup beberapa saja kita kuasai, maka akan banyak informasi yang kita dapat.


Ø  Kesenian
Salah satu ciri khas dari kebudayaan adalah kesenian. Banyak hal yang bisa kita pelajari mengenai kesenian. Misalnya seni sastra, lukis, musik, tari, drama, kria dan lain sebagainya. Hal tersebut bagian dari khas yang dimiliki setiap daerah maupun setiap negara. Misalnya untuk kesenian musik. Kita bisa mengetahui dan mencari musik yang khas dari setiap daerah maupun negara. Contohnya lagu-lagu daerah ampar-ampar pisang yang berasal dari Kalimantan Selatan yang menjadi ciri khas dari daerah tersebut.

Ø  Sistem mata pencaharian hidup
Mata pencaharian sangat diperlukan untuk setiap masyarakat karena bermanfaat untuk memenuhi kehidupan manusia. Misalnya kaum pegawai/karyawan, kaum petani, nelayan, pedagang, buruh dan seterusnya. Hal tersebut merupakan mata pencaharian yang harus kita tekuni. Contohnya masyarakat yang hidup dipesisir pantai lebih banyak bermata pencaharian sebagai nelayan atau masyarakat yang hidup di perkotaan lebih banyak bermata pencaharian sebagai pegawai kantoran.

Ø  Sistem teknologi dan peralatan
Teknologi semakin lama semakin luas. Karena makin banyaknya masyarakat yang hidup modern. Teknologi sangat diperlukan akan tetapi tidak untuk melakukan perbuatan yang melanggar norma-norma yang berlaku. Sekarang banyak yang menyalahgunakan alat teknologi khususnya internet. Tidak sedikit masyarakat yang tertipu atau melakukan perbuatan asusila dengan internet. Hal tersebut harus kita perhatikan. Jangan sampai kebudayaan kita menjadi minus dimata negara lain. Contoh lainnya dari system teknologi dan peralatan adalah peralatan kantor, rumah tangga, pertanian, nelayan, tukang kayu, peralatan ibadah dan sebagainya lagi. Unsur kebudayaan secara universal sangat beragam. Kita bisa pelajari dengan baik maka akan dapat banyak sekali pengetahuan yang sangat bermanfaat.

3.    Sistem budaya dan sosial

– Sistem budaya
Sistem budaya merupakan wujud yang abstrak dari kebudayaan. Sistem budaya atau cultural system merupakan ide-ide dan gagasan manusia yang hidup bersama masyarakat.
Fungsi sistem budaya adalah menata dan menetapkan tindakan-tindakan serta tingkah laku manusia.
– Sistem Sosial
Sistem social merupakan realitas-realitas social di masyarakat tiap-tiap sistem social terdiri atas pola-pola perilaku tertentu yang mempunyai struktur dalam dua arti, yaitu:
1. Relasi-relasi sendiri antara orang-oarang bersifat agak mantap dan tidak cepat berubah.
2. Perilaku-perilaku mempunyai corak atau bentuk yang relative mantap.

Dalam suatu sistem social, paling tidak harus terdapat hal, yaitu:
1. Dua oaring atau lebih
2. Terjadi interaksi diantara mereka
3. Bertujuan
4. Memiliki struktur, symbol, dan harapan-harapan bersama yang dipedomaninya.
Unsur-unsur sistem social ada sepuluh, yaitu:
1. Keyakinan (pengetahuan)
2. Perasaan (sentiment)
3. Tujuan, sasaran, atau cita-cita
4. Norma
5. Kedudukan peranan (status)
6. Tingkatan atau pangkat (tranle)
7. Kekuasaanatau pengaruh (power)
8. Sanksi
9. Sarana atau fasilitas
10. Tekanan ketegangan (stress-strain)


4.         konsep nilai, system nilai, dan orientasi nilai (budaya)
1.      Konsep Nilai Budaya

Theodorson dalam Pelly (1994) mengemukakan bahwa nilai merupakan sesuatu yang abstrak, yang dijadikan pedoman serta prinsip – prinsip umum dalam bertindak dan bertingkah laku. Keterikatan orang atau kelompok terhadap nilai menurut Theodorson relatif sangat kuat dan bahkan bersifat emosional. Oleh sebab itu, nilai dapat dilihat sebagai tujuan kehidupan manusia itu sendiri.
Sedangkan yang dimaksud dengan nilai budaya itu sendiri sduah dirmuskan oleh beberapa ahli seperti :
·         Koentjaraningrat
Menurut Koentjaraningrat (1987:85) lain adalah nilai budaya terdiri dari konsepsi – konsepsi  yang  hidup  dalam  alam  fikiran  sebahagian  besar  warga  masyarakat mengenai hal – hal yang mereka anggap amat mulia. Sistem nilai yang ada dalam suatu masyarakat dijadikan orientasi dan rujukan dalam bertindak. Oleh karena itu, nilai budaya yang dimiliki seseorang mempengaruhinya dalam menentukan alternatif, cara – cara, alat – alat, dan tujuan – tujuan pembuatan yang tersedia.
·         Clyde Kluckhohn dlam Pelly
Clyde Kluckhohn dalam Pelly (1994) mendefinisikan nilai budaya sebagai konsepsi umum yang terorganisasi, yang mempengaruhi perilaku yang berhubungan dengan alam, kedudukan manusia dalam alam, hubungan orang dengan orang dan tentang hal – hal yang diingini dan tidak diingini yang mungkin bertalian dengan hubungan orang dengan lingkungan dan sesama manusia.
·         Sumaatmadja dalam Marpaung
Sementara itu Sumaatmadja dalam Marpaung (2000) mengatakan bahwa pada perkembangan,  pengembangan,  penerapan  budaya  dalam  kehidupan,  berkembang pula nilai – nilai yang melekat di masyarakat yang mengatur keserasian, keselarasan, serta keseimbangan. Nilai tersebut dikonsepsikan sebagai nilai budaya.
Selanjutnya, bertitik tolak dari pendapat diatas, maka dapat dikatakan bahwa setiap individu dalam melaksanakan aktifitas vsosialnya selalu berdasarkan serta berpedoman kepada nilai – nilai atau system nilai yang ada dan hidup dalam masyarakat itu sendiri. Artinya nilai – nilai itu sangat banyak mempengaruhi tindakan dan perilaku manusia, baik secara individual, kelompok atau masyarakat secara keseluruhan tentang baik buruk, benar salah, patut atau tidak patut
Suatu nilai apabila sudah membudaya didalam diri seseorang, maka nilai itu akan dijadikan sebagai pedoman atau petunjuk di dalam bertingkahlaku. Hal ini dapat dilihat dalam kehidupan sehari – hari, misalnya budaya gotong royong, budaya malas, dan lain – lain. Jadi, secara universal, nilai itu merupakan pendorong bagi seseorang dalam mencapai tujuan tertentu.
Jadi dapat disimpulkan bahwa nilai budaya adalah suatu bentuk konsepsi umum yang dijadikan pedoman dan petunjuk di dalam bertingkah laku baik secara individual, kelompok atau masyarakat secara keseluruhan tentang baik buruk, benar salah, patut atau tidak patut.

2.      Sistem Nilai
Tylor dalam Imran Manan (1989;19) mengemukakan moral termasuk bagian dari kebudayaan, yaitu standar tentang baik dan buruk, benar dan salah, yang kesemuanya dalam konsep yang lebih besar termasuk ke dalam ‘nilai’. Hal ini di lihat dari aspek penyampaian pendidikan yang dikatakan bahwa pendidikan mencakup penyampaian pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai.
Kedudukan nilai dalam setiap kebudayaan sangatlah penting, maka pemahaman tentang sistem nilai budaya dan orientasi nilai budaya sangat penting dalam konteks pemahaman perilaku suatu masyarakat dan sistem pendidikan yang digunakan untuk menyampaikan sisitem perilaku dan produk budaya yang dijiwai oleh sistem nilai masyarakat yang bersangkutan.
Clyde Kluckhohn mendefinisikan nilai sebagai ………. sebuah konsepsi, eksplisit atau implisit, menjadi ciri khusus seseorang atau sekelompok orang, mengenai hal-hal yang diinginkan yang mempengaruhi pemilihan dari berbagai cara-cara, alat-alat, tujuan-tujuan perbuatan yang tersedia. Orientasi nilai budaya adalah ……. Konsepsi umum yang terorganisasi, yang mempengaruhi perilaku yang berhubungan dengan alam, kedudukan manusia dalam alam, hubungan orang dengan orang dan tentang hal-hal yang diingini dan tak diingini yang mungkin bertalian dengan hubungan antar orang dengan lingkungan dan sesama manusia.
Sistem nilai budaya ini merupakan rangkaian dari konsep-konsep abstrak yang hidup dalam masyarakat, mengenai apa yang dianggap penting dan berharga, tetapi juga mengenai apa yang dianggap remeh dan tidak berharga dalam hidup. Sistem nilai budaya ini menjado pedoman dan pendorong perilaku manusia dalam hidup yang memanifestasi kongkritnya terlihat dalam tata kelakuan. Dari sistem nilai budaya termasuk norma dan sikap yang dalam bentuk abstrak tercermin dalam cara berfikir dan dalam bentuk konkrit terlihat dalam bentuk pola perilaku anggota-anggota suatu masyarakat.
Kluckhohn mengemukakan kerangka teori nilai nilai yang mencakup pilihan nilai yang dominan yang mungkin dipakai oleh anggota-anggota suatu masyarakat dalam memecahkan 6 masalah pokok kehidupan.
3.        Orientasi Nilai Budaya

Kluckhohn   dalam   Pelly   (1994)   mengemukakan   bahwa   nilai   budaya merupakan  sebuah  konsep  beruanglingkup  luas  yang  hidup  dalam  alam  fikiran sebahagian besar warga suatu masyarakat, mengenai apa yang paling berharga dalam hidup. Rangkaian konsep itu satu sama lain saling berkaitan dan merupakan sebuah sistem nilai – nilai budaya.
Secara  fungsional  sistem  nilai  ini  mendorong  individu  untuk  berperilaku seperti  apa  yang  ditentukan.  Mereka  percaya,  bahwa  hanya  dengan  berperilaku seperti itu mereka akan berhasil (Kahl, dalam Pelly:1994). Sistem nilai itu menjadi pedoman yang melekat erat secara emosional pada diri seseorang atau sekumpulan orang, malah merupakan tujuan hidup yang diperjuangkan. Oleh karena itu, merubah sistem nilai manusia tidaklah mudah, dibutuhkan waktu. Sebab, nilai – nilai tersebut merupakan  wujud  ideal  dari  lingkungan  sosialnya.  Dapat  pula  dikatakan  bahwa sistem   nilai   budaya   suatu   masyarakat   merupakan   wujud   konsepsional   dari kebudayaan mereka, yang seolah – olah berada diluar dan di atas para individu warga masyarakat itu.
Ada lima masalah pokok kehidupan manusia dalam setiap kebudayaan yang dapat ditemukan secara universal. Menurut Kluckhohn dalam Pelly (1994) kelima masalah pokok tersebut adalah: (1) masalah hakekat hidup, (2) hakekat kerja atau karya manusia, (3) hakekat kedudukan manusia dalam ruang dan waktu, (4) hakekat hubungan manusia dengan alam sekitar, dan (5) hakekat dari hubungan manusia dengan manusia sesamanya.
Berbagai   kebudayaan   mengkonsepsikan   masalah   universal   ini   dengan berbagai  variasi  yang  berbeda  –  beda.  Seperti  masalah  pertama,  yaitu  mengenai hakekat hidup manusia. Dalam banyak kebudayaan yang dipengaruhi oleh agama Budha misalnya, menganggap hidup itu buruk dan menyedihkan. Oleh karena itu pola kehidupan masyarakatnya berusaha untuk memadamkan hidup itu guna mendapatkan   nirwana,   dan   mengenyampingkan   segala   tindakan   yang   dapat menambah rangkaian hidup kembali (samsara) (Koentjaraningrat, 1986:10). Pandangan  seperti  ini  sangat  mempengaruhi  wawasan  dan  makna  kehidupan  itu secara keseluruhan. Sebaliknya banyak kebudayaan yang berpendapat bahwa hidup itu baik. Tentu konsep – konsep kebudayaan yang berbeda ini berpengaruh pula pada sikap dan wawasan mereka.
Masalah kedua mengenai hakekat kerja atau karya dalam kehidupan. Ada kebudayaan yang memandang bahwa kerja itu sebagai usaha untuk kelangsungan hidup (survive) semata. Kelompok ini kurang tertarik kepada kerja keras. Akan tetapi ada juga yang menganggap kerja untuk mendapatkan status, jabatan dan kehormatan. Namun, ada yang berpendapat bahwa kerja untuk mempertinggi prestasi. Mereka ini berorientasi kepada prestasi bukan kepada status.
Masalah ketiga mengenai orientasi manusia terhadap waktu. Ada budaya yang memandang penting masa lampau, tetapi ada yang melihat masa kini sebagai focus usaha dalam perjuangannya. Sebaliknya ada yang jauh melihat kedepan. Pandangan yang berbeda dalam dimensi waktu ini sangat mempengaruhi perencanaan hidup masyarakatnya.
Masalah keempat berkaitan dengan kedudukan fungsional manusia terhadap alam. Ada yang percaya bahwa alam itu dahsyat dan mengenai kehidupan manusia. Sebaliknya ada yang menganggap alam sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa untuk dikuasai manusia. Akan tetapi, ada juga kebudayaan ingin mencari harmoni dan keselarasan dengan alam. Cara pandang ini akan berpengaruh terhadap pola aktivitas masyarakatnya.
Masalah kelima menyangkut hubungan antar manusia. Dalam banyak kebudayaan hubungan ini tampak dalam bentuk orientasi berfikir, cara bermusyawarah, mengambil keputusan dan bertindak. Kebudayaan yang menekankan hubungan horizontal (koleteral) antar individu, cenderung untuk mementingkan hak azasi, kemerdekaan dan kemandirian seperti terlihat dalam masyarakat – masyarakat eligaterian. Sebaliknya kebudayaan yang menekankan hubungan vertical cenderung untuk mengembangkan orientasi keatas (kepada senioritas, penguasa atau pemimpin). Orientasi ini banyak terdapat dalam masyarakat paternalistic (kebapaan). Tentu saja pandangan ini sangat mempengaruhi proses dinamika dan mobilitas social masyarakatnya.
Inti permasalahan disini seperti yang dikemukakan oleh Manan dalam Pelly (1994) adalah siapa yang harus mengambil keputusan. Sebaiknya dalam system hubungan vertical keputusan dibuat oleh atasan (senior) untuk semua orang. Tetapi dalam  masyarakat  yang  mementingkan  kemandirian  individual,  maka  keputusan dibuat dan diarahkan kepada masing – masing individu.
Pola orientasi nilai budaya yang hitam putih tersebut di atas merupakan pola yang ideal untuk masing – masing pihak. Dalam kenyataannya terdapat nuansa atau variasi  antara  kedua  pola  yang  ekstrim  itu  yang  dapat  disebut  sebagai  pola transisional. Kerangka Kluckhohn mengenai lima masalah dasar dalam hidup yang menentukan orientasi nilai budaya manusia dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Skema Kluckhohn: Lima Masalah Dasar Yang Menentukan Orientasi
Nilai Budaya Manusia
Masalah Dasar Dalam Hidup
Orientasi Nilai Budaya
Konservatif
Transisi
Progresif
Hakekat Hidup
Hidup itu buruk
Hidup itu baik
Hidup itu sukar tetapi harus diperjuangkan
Hakekat Kerja/karya
Kelangsungan hidup
Kedudukan dan kehormatan / prestise
Mempertinggi prestise
Hubungan Manusia Dengan Waktu
Orientasi ke masa lalu
Orientasi ke masa kini
Orientasi ke masa depan
Hubungan Manusia Dengan Alam
Tunduk kepada alam
Selaras dengan alam
Menguasai alam
Hubungan Manusia Dengan Sesamanya
Vertikal
Horizontal/ kolekial
Individual/mandiri
*) Dimodifikasi dari Pelly (1994:104)
Meskipun cara mengkonsepsikan lima masalah pokok dalam kehidupan manusia yang universal itu sebagaimana yang tersebut diatas berbeda – beda untuk tiap masyarakat dan kebudayaan, namun dalam tiap lingkungan masyarakat dan kebudayaan tersebut lima hal tersebut di atas selalu ada.
Sementara itu Koentjaraningrat telah menerapkan kerangka Kluckhohn di atas untuk menganalisis masalah nilai budaya bangsa Indonesia, dan menunjukkan titik – titik   kelemahan   dari   kebudayaan   Indonesia   yang   menghambat   pembangunan nasional. Kelemahan utama antara lain mentalitas meremehkan mutu, mentalitas suka menerabas, sifat tidak percaya kepada diri sendiri, sifat tidak berdisiplin murni, mentalitas suka mengabaikan tanggungjawab.
Kerangka Kluckhohn itu juga telah dipergunakan dalam penelitian dengan kuesioner untuk mengetahui secara objektif cara berfikir dan bertindak suku – suku di Indonesia umumnya yang menguntungkan dan merugikan pembangunan.
Selain itu juga, penelitian variasi orientasi nilai budaya tersebut dimaksudkan disamping untuk mendapatkan gambaran sistem nilai budaya kelompok – kelompok etnik di Indonesia, tetapi juga untuk menelusuri sejauhmana kelompok masyarakat itu memiliki system orientasi nilai budaya yang sesuai dan menopang pelaksanaan pembangunan nasional.
KESIMPULAN

1        Konsep nilai budaya adalah suatu bentuk konsepsi umum yang dijadikan pedoman dan petunjuk di dalam bertingkah laku baik secara individual, kelompok atau masyarakat secara keseluruhan tentang baik buruk, benar salah, patut atau tidak patut.
2        Sistem nilai budaya ini merupakan rangkaian dari konsep-konsep abstrak yang hidup dalam masyarakat, mengenai apa yang dianggap penting dan berharga, tetapi juga menjadi pedoman dan pendorong perilaku manusia dalam hidup yang memanifestasi kongkritnya terlihat dalam tata kelakuan. Dari sistem nilai budaya termasuk norma dan sikap yang dalam bentuk abstrak tercermin dalam cara berfikir dan dalam bentuk konkrit terlihat dalam bentuk pola perilaku anggota-anggota suatu masyarakat.
3        Orientasi atau fokus dari nilai budqaya adalah untuk membahas dan juga menyelesaikan 5 permasalahan dalam hidup yaitu (1) masalah hakekat hidup, (2) hakekat kerja atau karya manusia, (3) hakekat kedudukan manusia dalam ruang dan waktu, (4) hakekat hubungan manusia dengan alam sekitar, dan (5) hakekat dari hubungan manusia dengan manusia sesamanya.


5.         Perubahan kebudayaan dan penyesuaian diri antar budaya
Peristiwa-peristiwa perubahan Kebudayaan:
1. Cultural lag, yaitu perbedaan antara taraf kemajuan berbagai bagian dalam kebudayaan suatu masyarakat.
2. Cultural survival, yaitu suatu konsep yang lain, dalam arti bahwa konsep ini dipakai untuk menggambarkan suatu praktek yang telah kehilangan fungsi pentingnya seratus persen, yang tetap hidup dan berlaku semata-mata hanya di atas landasan adat-istiadat.
3. Pertentangan kebudayaan (cultural conflict), hal ini terjadi sebagai akibat relatifnya kebudayaan yang menyebabkan konflik langsung antar kebudayaan.
4. Guncangan kebudayaan (culture shock), yaitu penyakit mental yang tak disertai oleh korbannya dimana seseorang tiba-tiba dipindahkan kedalam suatu kebudayaan yang berbeda dari kebudayaan sendiri.
Ada 4 tahap yang membentuk siklus culture shock:
1. Tahap inkubasi, kadang-kadang disebut tahap bulan madu, sebagai suatu pengalaman baru yang menarik.
2. Tahap krisis, ditandai dengan suatu perasaan dendam, pada saat inilah terjadi korban culture shock.
3. Tahap kesembuhan, korban mampu melampaui tahap kedua, hidup engan damai.
4. Tahap penyesuaian diri, sekarang orang tersebut sudah membanggakan sesuatu yang dilihat dan dirasakannya dalam kondisi yang baru itu, rasa cemas dalam dirinya sudah berlalu.
Faktor ekstern yang berpengaruh terhadappenyesuaian diri antar budaya adalah:
1. Besar-kecilnya perbedaan antara kebudayaan tempat asalnya dengan kebudayaan lingkungan yang dimaksukinya.
2. Pekerjaan yang dilakukannya, yaitu apakah pekerjaan yang dilakukannya itu dapat ditolerir dengan latar belakang pendidikannya atau pekerjaan sebelumnya.
3. Suasana lingkungan tempat ia berada.
4. Enkulturasi (pembudayaan), yaitu proses seorang individu mempelajari dan menyesuaikan pikiran serta sikapnya dengan adat-istiadat, sistem norma, dan peraturan-peraturan yang hidup dalam kebudayaannya.
5. Akulturasi, yaitu proses social yang timbul bertemu suatu keudayaan tertentu dengan unsure-unsur dari suatu kebudayaan asing sehingga unsure-unsur kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian budaya itu sendiri.
6. Difusi, yaitu proses penyebaran unsure-unsur kebudayaan dan sejarah keseluruh dunia bersama dengan penyebaran dan migrasi kelompok-kelompok manusia.


6.         Barat dan timur diantara kebudayaan nasional

Nilai Budaya Barat
Barat dalam pikirannya cenderung menekankan dunia objektif dari pada rasa sehingga hasil pola pemikiran demikian membuahkan sains dan teknologi. Barat dalam cara berpikir dan hidupnya lebih tepikat oleh kemajuan material dan hidup sehingga tidak cocok dengan cara berpikir untuk meninjau makna hidupnya.
Menurut Ta Thi Anh (1975) ada tiga nilaiyang penting yang mendasari semua nilai Barat, yakni martabat manusia, kebebasan, dan teknologi.
Dalam hal manusia, mereka beranggapan bahwa manusia adalah ukuran bagi segalanya. Maksudnya, manusia mempunyai kemampuan untuk menyempurnakan hidupnya sendiri dengan syarat bertindak tolak dari rasio, intelek, dan pengalaman (Dovothy L.Marx, 1983). Manusia oleh Barat dipandang sebagai pusat segala sesuatu yang mempunyai kemampuan rasional, kreatif, dan estetik sehingga kebudayaan Barat menghasilkan beberapa nilai dasar seperti demokrasi, lembaga social, dan kesejahteraan ekonomi.
Kebudayaan barat memperkenalkan unsure-unsur budaya sebagai berikut : Ilmu pengetahuan, teknologi, sistem social, system ekonomi, peralatan, bahasa eropa, kesenian (sastra, tari, musik, bangunan ) dan agama Kristen. Disamping itu mereka juga memperkenalkan huruf dan tulisan latin yang merupakan unsur penting bagi terbuka lebarnya komunikasi budaya internasional. Pengaruh kebudayaan barat sangat nyata dengan adanya proses modenisasi kehidupan masyarakat kita.


Nilai budaya timur
Nilai budaya timur pada intinya banyak bersumber dari agama- agama yang lahir di dunia timur.Berpikir secara timur tidak bertujuan menunjang usaha- usaha manusia unuk menguasai dunia dan hidup secara teknis, sebab manusia timur lebih menyukai intuisi dari pada akal budi.
Nilai budaya yang di pengaruhi oleh agama Hindu dan budha membuat kebijasanaan timur bersifat kontemplatif, tertuju kepada tinjauan kebenaran. Nafsu untuk memperoleh hikmah atau kerinduan akan keselamatan dunia, dan kebebasan diri dari penderitaan dunia semua tidak terletak pada akal budinya, tetapi di lalui dengan meditasi, tirakat (ascetic), dan mistik. Budaya timur menginginkan kekayaan hidup, bukan kekayaan benda, tenang tenteram, menyatu diri, fatalisme, pasivitas, dan menarik diri.


Reaksi dan Sikap Budaya Timur
Menurut Alfian (1985,36) ada tiga pola atau corak reaksi dalam menghadapi tantangna kebudayan Barat, yaitu:
1. Corak reaksi yang menerima dan merangkul bulat-bulat kebudayaan Barat.
2. Corak yang sama sekali antikebudayaan Barat
3. Corak reaksi yang berusaha melihat pembenturan kebudayaan Timur dengan Barat secara realistis dan kritis.
Kebudayaan nasional hanya berusaha mengadakan sinteisi antara nilai budaya Barat dan nilai budaya Timur, atau perpaduan keduanya secara selektif.
Kebudayaan Nasional Indonesia
Ada dua pendapat tentang kebudayaan Nasional, yaitu:
1. kebudayaan Nasional adalah berupa puncak dari budaya suku-suku yang menghuni bumi Nusantara ini.
2. Kebudayaan Nasional adalah hasil sintesa dari berbagai jenis budaya suku tersebut, yang membentuk pola baru.
Rumusan tentang kebudayaan nasional dapat dikelompokkan kedalam dua aliran, yaitu:
1. Keindonesiaan sebenarnya sudah sejak dahulu kala, mulai dari adapt, seni, dll. Perlu diusahakan oleh bangsa Indonesia dalam membangun kebudayaan nasionalnya ialah bagaimana memperbaharui kebudayaan dengan memperluas dasar kebudayaan Indonesia melalui cara memadukan materialisme, perasaan, telektualisme, dan individualisme (Barat) dengan spiritualisme, perasaan, dan kolektivisme (Timur). Aliran pertama ini dipelopori oleh Ki Hajar Dewantara c.s.
2. Aliran yang dipelopori oleh Sutan Takdir Alisyahbana menghandaki penciptaan kebudayaan nasional Indonesia banyak dipengaruhi oleh unsure-Barat yang dinamis. Kebudayaan nasional yang baru itu dengan sendirinya mencerminkan pula watak dan kepribadian bangsa Indonesia yang berbeda dengan watak dan kepribadian sebelumnya (masyarakat dan kebudayaan pra-Indonesia)
Berdasarkan fungsinya, kebudayaan nasional menurut Koentjaraningrat adalah:
a. Suatu system gagasan dan perlambang yang, memberi identitas kepada Negara Indonesia.
b. Suatu system gagasan dan perlambang yang dapat dipakai oleh semua warga Negara warga Indonesia yamg bhinneka itu, untuk saling berkomunikasi dan dengan demikian dapat memperkuat solidaritas.
Syarat kebudayaan nasional Indonesia sebagai suatu system gagasan dan perlambangan yaitu sebagai berikut:
1. Merupakan hasil karya warga Indonesia
2. Mengandung cirri-ciri khas Indonesia
3. Hasil karya warga Indonesia yang dinilai tinggi oleh warganya dan menjadi kebanggaan semua.
Beberapa kebudayaan nasional yang bias diterima dan dihayati oleh seluruh bangsa Indonesia secara nasional adalah:
1. Pancasila
2. Undang-undang Dasar 1945 (UUD 45)
3. Sumpah pemuda 28 oktober 1928
4. Bendera merah-putih, lagu Indonesia Raya dajn Lambang Garuda
5. Bahasa Indonesia
6. Kepercayaan kepada roh nenek moyang
7. Sikap ramah dan gotong royomg
8. Modernisasi dan pembangunan
Pengaruh Budaya Luar terhadp Masyarakat Indonesia
1. Pengaruh Positif
– kemajuan di bidang IPTEK
– Perangsang percepatan perkembangan masyarakat Indonesia dengan demikian akan memperkaya kebudayaan.
2. Pengaruh Negatif
– Mempengaruhi etiket dan moral bangsa Indonesia khususnya generasi muda yang mudah terpengaruh.
– Gaya hidup bebas
– Cara berpakaian yang minim
– dsb




Anggota kelompok:
1.    Aditya Agung Putra                                     (10214286)
2.    Almira Nazma                                               (10214881)
3.    Annisa Aprilia                                               (11214349)
4.    Auliya Cornelia Hidayat                             (11214842)
5.    Bayu Budi Chakti                                        (12214054)
6.    Dea Kirana                                                    (12214582)
7.    Deviyanti Demirha                                       (12214855)
8.    Diyanah Fauzziyah Meiliawati                  (13214223)
9.    Fenty Amalia                                                            (14214157)
10. Indha Yelda Malau                                      (15214282)
11. Reni Agustin                                                            (19214059)
12. Rich Lean Bona                                           (19214241)
 
Description: gundar.jpegIlmu Budaya Dasar 
Masalah Kebudayaan

 

(c)2009 Almira Nazma's Blog. Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger